Musyahadah Senja Bergerimis
17 Feb 2012 5 Komentar
in Puisi Akhmad Muhaimin Azzet Tag:azzet, gerimis, hujan, puisi, sajak, senja
bukankah sebentar lagi malam menjelang
burung-burung pun sudah pada hinggap bersarang
sungguh! senja mestinya bukan sekadar kehampaan
memaknai gerimis saja, sepertinya kita
tak lagi mempunyai rasa malu
padahal siapa berlepot noda seharian?
padahal
pertanggungjawaban juga tak kenal tangguh waktu
yang akan memburu engkau atau aku, selalu!
Bumidamai, Yogyakarta.
Seutuhnya Puisi
20 Jan 2012 16 Komentar
in Puisi Akhmad Muhaimin Azzet Tag:akhmad, azzet, jalan, muhaimin, puisi, sajak, sastra
pada jalanan yang kian gelapkan mata ini
aku ingin seutuhnya puisi, kejujuran hati
sebagai obat bagi musim yang kian sekarat
agar tak lagi kecewa saat rindu mendekat
ya, seutuhnya puisi, sepenuhnya hari-hariku
sebab sepanjang nafas menderukan debu
hanya bual melulu, ilusi duh betapa tak ragu
Bumidamai, Yogyakarta.
Nyanyian Cinta
03 Jan 2012 14 Komentar
in Puisi Akhmad Muhaimin Azzet Tag:akhmad, azzet, cinta, muhaimin, puisi, rindu
di sepertiga malam yang menggumpal
aku merapatkan cinta, di atas sajadah
sebab kerinduan semakin berjejal
memenuhi dada yang tak sudah-sudah
tasbih berputar menjadi nyanyian cinta
puisi hati menghadap Tuhan Yang Kuasa
sungguh bukan karena cinta terbelah dua
cintaku pada rasul-Mu, duh pada-Mu jua
Bumidamai, Yogyakarta.
Melukis Ibu dalam Mimpi
23 Des 2011 16 Komentar
in Puisi Akhmad Muhaimin Azzet Tag:damai, ibu, puisi, sajak, sastra
entah karena kalah, ibu, anakmu bernyanyi
menuju mimpi para pencinta bunga wangi
dan melukismu, ibu, betapa gerak lunglai
atau inikah menuju alamat betapa kerap lalai
Bumidamai, Yogyakarta.
Sejenak Menghibur Diri
11 Nov 2011 22 Komentar
in Puisi Akhmad Muhaimin Azzet Tag:akhmad, azzet, muhaimin, puisi, sajak, sastra
di bukit yang tersisa, yang pepohonan
masih belum dilibas angkara
aku merebah bersama lumut bebatuan
air menetes segar dari sulur menjuntai
membasahi dada, inikah surga?
ternyata langkah betapa lelah berlarian
dari keserakahan yang mengancam
siang dan malam bersitegang
Bumidamai, Yogyakarta.
Inikah Pertaubatan
04 Nov 2011 14 Komentar
in Puisi Akhmad Muhaimin Azzet Tag:hati, puisi, sajak, sastra, taubat
tersungkur dengan segala rupa air mata
setelah bahagia, lantas berjingkrak-jingkrak
kembali
melolong untuk menghentikan alpa serupa
tapi begitu mudah lena
dan mengulang-ulang lagi
bahkan berjanji dengan segala kata
semoga pertaubatan yang ini
adalah sungguh perjalanan hati
Bumidamai, Yogyakarta.
Menunggu Hujan
21 Okt 2011 8 Komentar
in Puisi Akhmad Muhaimin Azzet Tag:akhmad muhaimin azzet, hujan, puisi
duduk di tumpukan daun jati yang mengering
ada yang pelahan meranggas di sekujur tubuhku
serupa kambium, pori-pori ini memecah hening
akar persoalan pun merangsek menuju rindu
ya, rindu tetes demi tetes kesegaran dari langit
serupa hujan yang menumpahkan air cinta
bagi kemarau panjang atau dada yang terhimpit
segeralah, duhai, doa pun telah kering air mata
Bumidamai, Yogyakarta.
Ungkapan Cinta
07 Okt 2011 6 Komentar
in Puisi Akhmad Muhaimin Azzet Tag:cinta, dzikir, kekasih, rindu
ini rindu kesadaran atau mabuk perjalanan di keremangan
mengungkapkan cinta sempoyongan pada siang dan malam
“jangan pernah mengaku menari seperti Rumi
kita tiada pernah mampu menahan dahaga!”
jubah putih berkibar-kibar, bergema dzikir
mengikuti angin setelah mengajarkan tentang ketulusan
terima kasih wahai guru bermujahadah di deru polusi zaman
ungkapan cinta sesungguhnya berdenyut jantung waktu
lantas mengalir darah ibadah di setiap jengkal jasad
kehidupan, tapi betapa limbung merindu
langkah kaki terantuk begitu saja ketika jiwa
menatap matahari tanpa ada kemungkinan gerhana
Bumidamai, Yogyakarta.
Konfigurasi Air Mata
23 Sep 2011 6 Komentar
in Puisi Akhmad Muhaimin Azzet Tag:indonesia, puisi, sajak, sastra
meriap dalam gurat dan jajar yang sungguh perih, penyesalan
mengapa baru terlahir setelah segalanya terkoyak dan muram
di rahim yang dulu tempat sujud dan bertadarus sunyi
betapa tandus kini, inikah padang bagi benih makrifat?
hanya air mata, sekadar air mata, tak tuntas memang
menebus segalanya yang telanjur direnggut penyembah berhala
sebab habis ruang untuk bertanya tentang salah siapa
kita pun pernah takabur meninggalkan surau tua
setelah pendakian: dan musyahadah dunia betapa indahnya
Bumidamai, Yogyakarta.
Bendera Bangsaku
16 Agu 2011 18 Komentar
in Puisi Akhmad Muhaimin Azzet Tag:17 Agustus, bangsa, bendera, doa, merah putih, merdeka, negara, puisi, sajak, sastra
hari ini, aku pegang kuat tiang bendera yang berkibar
meski dengan rasa geregetan terhadap tingkah polah
para pemimpin yang menodai perjuangan
para pahlawan kemerdekaan
betapa mereka berjuang dengan penuh pengorbanan
harta bahkan jiwa pun melayang
namun, para pemimpin negeri ini, saat ini
entah berapa jumlahnya yang bekerja setulusnya
untuk kemerdekaan dan kemakmuran bangsa
lagi-lagi demi keluarga dan kelompoknya
aih, jangan bicara soal keadilan
nyatanya hanya akan menyesakkan dada
atau menguras air mata yang seakan tiada guna
hari ini, aku pegang kuat bendera bangsaku
entah dengan tangis atau hanya gemuruh rasa duka
hanya doa yang akhirnya berhamburan sepenuh jiwa
semoga perjuangan para pahlawan kemerdekaan
tidak malah dinodai pemimpin negeri ini
dengan mempermainkan hukum dan tindak korupsi
semoga keadilan
semoga kemakmuran
bagi semua rakyat negeri tercinta ini
semoga, semoga…
Yogyakarta, 16 Agustus 2011











Komentar Sahabat