Musyahadah Senja Bergerimis

bukankah sebentar lagi malam menjelang
burung-burung pun sudah pada hinggap bersarang
sungguh! senja mestinya bukan sekadar kehampaan
memaknai gerimis saja, sepertinya kita
tak lagi mempunyai rasa malu
padahal siapa berlepot noda seharian?
padahal
pertanggungjawaban juga tak kenal tangguh waktu
yang akan memburu engkau atau aku, selalu!

Bumidamai, Yogyakarta.

Seutuhnya Puisi

pada jalanan yang kian gelapkan mata ini
aku ingin seutuhnya puisi, kejujuran hati
sebagai obat bagi musim yang kian sekarat
agar tak lagi kecewa saat rindu mendekat

ya, seutuhnya puisi, sepenuhnya hari-hariku
sebab sepanjang nafas menderukan debu
hanya bual melulu, ilusi duh betapa tak ragu

Bumidamai, Yogyakarta.

Nyanyian Cinta

di sepertiga malam yang menggumpal
aku merapatkan cinta, di atas sajadah
sebab kerinduan semakin berjejal
memenuhi dada yang tak sudah-sudah

tasbih berputar menjadi nyanyian cinta
puisi hati menghadap Tuhan Yang Kuasa
sungguh bukan karena cinta terbelah dua
cintaku pada rasul-Mu, duh pada-Mu jua

Bumidamai, Yogyakarta.

Melukis Ibu dalam Mimpi

entah karena kalah, ibu, anakmu bernyanyi
menuju mimpi para pencinta bunga wangi
dan melukismu, ibu, betapa gerak lunglai
atau inikah menuju alamat betapa kerap lalai

Bumidamai, Yogyakarta.

Sejenak Menghibur Diri

di bukit yang tersisa, yang pepohonan
masih belum dilibas angkara
aku merebah bersama lumut bebatuan

air menetes segar dari sulur menjuntai
membasahi dada, inikah surga?

ternyata langkah betapa lelah berlarian
dari keserakahan yang mengancam
siang dan malam bersitegang

Bumidamai, Yogyakarta.

Inikah Pertaubatan

tersungkur dengan segala rupa air mata
setelah bahagia, lantas berjingkrak-jingkrak
kembali

melolong untuk menghentikan alpa serupa
tapi begitu mudah lena
dan mengulang-ulang lagi

bahkan berjanji dengan segala kata
semoga pertaubatan yang ini
adalah sungguh perjalanan hati

Bumidamai, Yogyakarta.

Menunggu Hujan

duduk di tumpukan daun jati yang mengering
ada yang pelahan meranggas di sekujur tubuhku
serupa kambium, pori-pori ini memecah hening
akar persoalan pun  merangsek menuju rindu

ya, rindu tetes demi tetes kesegaran dari langit
serupa hujan yang menumpahkan air cinta
bagi kemarau panjang atau dada yang terhimpit
segeralah, duhai, doa pun telah kering air mata

Bumidamai, Yogyakarta.

Ungkapan Cinta

ini rindu kesadaran atau mabuk perjalanan di keremangan
mengungkapkan cinta sempoyongan pada siang dan malam
“jangan pernah mengaku menari seperti Rumi
kita tiada pernah mampu menahan dahaga!”
jubah putih berkibar-kibar, bergema dzikir
mengikuti angin setelah mengajarkan tentang ketulusan

terima kasih wahai guru bermujahadah di deru polusi zaman
ungkapan cinta sesungguhnya berdenyut jantung waktu
lantas mengalir darah ibadah di setiap jengkal jasad
kehidupan, tapi betapa limbung merindu
langkah kaki terantuk begitu saja ketika jiwa
menatap matahari tanpa ada kemungkinan gerhana

Bumidamai, Yogyakarta.

Konfigurasi Air Mata

meriap dalam gurat dan jajar yang sungguh perih, penyesalan
mengapa baru terlahir setelah segalanya terkoyak dan muram
di rahim yang dulu tempat sujud dan bertadarus sunyi
betapa tandus kini, inikah padang bagi benih makrifat?
hanya air mata, sekadar air mata, tak tuntas memang
menebus segalanya yang telanjur direnggut penyembah berhala
sebab habis ruang untuk bertanya tentang salah siapa
kita pun pernah takabur meninggalkan surau tua
setelah pendakian: dan musyahadah dunia betapa indahnya

Bumidamai, Yogyakarta.

Bendera Bangsaku

hari ini, aku pegang kuat tiang bendera yang berkibar
meski dengan rasa geregetan terhadap tingkah polah
para pemimpin yang menodai perjuangan
para pahlawan kemerdekaan

betapa mereka berjuang dengan penuh pengorbanan
harta bahkan jiwa pun melayang
namun, para pemimpin negeri ini, saat ini
entah berapa jumlahnya yang bekerja setulusnya
untuk kemerdekaan dan kemakmuran bangsa
lagi-lagi demi keluarga dan kelompoknya

aih, jangan bicara soal keadilan
nyatanya hanya akan menyesakkan dada
atau menguras air mata yang seakan tiada guna

hari ini, aku pegang kuat bendera bangsaku
entah dengan tangis atau hanya gemuruh rasa duka
hanya doa yang akhirnya berhamburan sepenuh jiwa
semoga perjuangan para pahlawan kemerdekaan
tidak malah dinodai pemimpin negeri ini
dengan mempermainkan hukum dan tindak korupsi

semoga keadilan
semoga kemakmuran
bagi semua rakyat negeri tercinta ini
semoga, semoga…

Yogyakarta, 16 Agustus 2011

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.