Membuat Puisi untuk Anak TK
30 Jun 2011 6 Komentar
in Puisi Akhmad Muhaimin Azzet Tag:anak-anak, indonesia, perpisahan, perpisahan sekolah, puisi, sastra, sastra anak, sekolah, Taman Kanak-kanak, TK, Yogyakarta
Pada suatu hari saya diminta oleh adik saya yang guru TK (Taman Kanak-kanak) untuk membuat puisi yang akan dibacakan pada acara perpisahan di sekolah tempatnya mengajar. Saya diminta membuat dua buah puisi; satu puisi akan dibaca murid TK yang menyatakan selamat tinggal kepada guru-gurunya dan sebuah puisi lagi akan dibaca oleh gurunya sebagai ucapan kepada murid-muridnya yang akan meninggalkan sekolah dan melanjutkan ke sekolah dasar.
Dalam membuat puisi tersebut, saya tinggal mempunyai waktu semalam, karena besok pagi akan dipakai latihan, begitu kata adik saya. Saya tidak masalah dengan waktu semalam itu, toh selama ini saya memang suka menulis puisi. Maka, menjelang tengah malam yang dingin, saya pun bersiap menulis puisi.
Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu. Sementara saya hanya termangu. Bagaimana ini? Ternyata saya sulit sekali menulis puisi, padahal ini puisi untuk anak TK. Aha, justru untuk anak TK itulah saya malah sulit sekali menuangkan kata-kata untuk menulis puisi. Ada beban yang tidak ringan bagaimana menulis puisi secara sederhana dan bisa dipahami oleh anak-anak seusia TK.
Haruskah saya menyerah untuk mengatakan tidak bisa menulis puisi, padahal besok paginya puisi itu sudah harus dibuat latihan. Akhirnya, mau tidak mau, bisa tidak bisa, saya harus menulis puisi itu. Dan, jadilah dua puisi itu sebagai berikut:
Bu Guru, Doakan Kami
hari ini
dua tahun sudah
kami di TK Al-Husna
belajar membaca, belajar menyanyi
belajar menghitung, belajar mengaji
bu guru, maafkan kami
jika selama belajar
kami kadang nakal
menakali teman
atau ramai sendiri
tapi, banyak yang
kami pelajari di sini
itu karena bu guru sabar
menghadapi kami
bu guru amat sayang
kepada kami
terima kasih, bu guru
sungguh terima kasih
bu guru, doakan kami
hari ini kami ‘kan melangkah
meninggalkan
TK Al-Husna tercinta
meneruskan belajar
demi cita-cita
TK Al-Husna, 18 Juni 2011.
—————————–
Selamat Jalan, Anak-Anakku
hari ini
berat rasanya untuk mengatakan
kata perpisahan
sebab dua tahun kita bersama
belajar membaca, belajar menyanyi
belajar menghitung, belajar mengaji
hari ini
terasa ingin menetes air mata
sebab, besok tak ada lagi
kebersamaan kita
di TK Al-Husna tercinta
hari ini
kami pun harus bangga
terhadap anak-anakku tercinta
betapa besar semangat kalian
untuk belajar menjadi bisa
hari ini
meski terasa berat di dada
kami harus mengucapkan
selamat jalan, anak-anakku tercinta
melangkahlah, semangatlah
melanjutkan belajar
demi meraih cita-cita
hari ini
kami melepasmu, anak-anakku
dengan untaian doa
sepenuh jiwa
TK Al-Husna, 18 Juni 2011.
Demikianlah. Saya tidak tahu apakah puisi tersebut bagus atau tidak, tapi itulah hasilnya setelah saya merasa tidak mudah menuliskannya. Akhirnya saya ucapkan salut kepada siapa saja yang sudah terbiasa menulis puisi untuk anak-anak TK. Sungguh, ternyata pekerjaan ini tidak mudah, setidaknya bagi saya.
Salam kreatif dari Purwomartani,
Akhmad Muhaimin Azzet








Jun 30, 2011 @ 03:05:16
subhanallah,,,
hebat pak, dalam waktu yg begitu singkat bisa bikin 2 puisi,,,
kalau saya mah nyerah deh…
Jul 02, 2011 @ 01:38:42
Subhanallah wal hamdulillah….
Mas Mabruri, apakah ini yang dinamakan the power of kepepet? Kalau kepepet pun puisi Mas Mabruri tentu lebih hebat dari puisi tersebut. Hehe…., makasih ya, Mas, telah singgah ke lapak puisi ini.
Jul 03, 2011 @ 10:10:02
Jadi ingat guru dan teman-teman semasa TK dulu
Sebab, untuk membuat puisi asal jadi (belum ada revisi) saya memerlukan waktu seharian…
Kalau saya berandai-andai dalam waktu semalam diminta membuat puisi, saya memilih tidur
Jul 06, 2011 @ 03:55:01
Hehe… jadi ingat guru dan teman-teman semasa TK ya… Kalo saya dulu malah tidak pernah sekolah TK (apa ini ya penyebabnya sehingga saya sulit membuat puisi untuk anak TK?). Wah, kalo ditinggal tidur, nanti adik saya nanya, “Puisinya sudah jadi apa belum, Mas? Besok sudah dibuat latihan neh….” Nah, lho! Tapi, memang ada baiknya kok, ketika kepepet, sesuatu yang dalam keadaan normal “tidak bisa” menjadi “bisa”. Ohya, makasih banyak ya…. telah mampir kemari.
Jul 05, 2011 @ 06:15:46
memang,. bikin puisi buat anak kecil itu tidak semudah bikin puisi cinta
soalnya harus dengan bahasa yang mudah dimengerti…
tapi hasilnya bagus kok mas
Jul 06, 2011 @ 04:02:11
Benar sekali, Mbak Amelia, membuat puisi cinta lebih mudah. Tapi, ada kalanya lho, membuat puisi cinta juga tidak mudah; biasanya saat cinta benar-benar penuh di dada, sehingga tak satu kata pun dapat mewakilinya. Makasih banyak ya, Mbak Amelia, telah berkunjung ke blog ini.