Ada Gelombang

senantiasa bergemuruh, menghadapi karang seharian
ada gelombang yang begitu indah di dadamu
ya, dzikir itu, gelombang sarat ombak rindu dan cinta
yang tidak hanya menderu dalam tahajjud di malam syahdu
tapi segala gerak siang bekerja menuju kedamaian
dan engkaulah memang senantiasa berguru kedalaman samudra
memaknai usia, menata batu-bata bagi rumah keabadian

ada gelombang yang tidak saja gegap menghantam
tetapi juga lembut membelai, persoalan beragam
seperti kata ibu saat menunggui angin kemarau
merindui hujan dengan doa dan ketulusan dedaunan
“dengan sujud, anakku, menuntaskan segala beban!”
sementara gelombang biarlah menjelma wujud kesaksian
dan pertaubatan yang tak sudah-sudah teruraikan

Bumidamai, Yogyakarta.

Jangan Menjadi Kartini

jangan menjadi Kartini
bila hanya karena dendam
kepada lelaki

jangan menjadi Kartini
bila hanya ingin
mengangkangi lelaki

tetapi menjadilah Kartini
sepenuh cinta, sepenuh hati
membangun mitra sejati

menjadilah Kartini
yang indah memesona
dan dihormati

di negeri tercinta, menjelang siang

Masjid Sepanjang Perjalanan

menelusuri siang dan malam ada ceruk dan bebatuan
tapi benarkah rambu jalanan tak sekadar pilar tua
atau bahkan malah keropos digerogoti usang zaman
jangan, sayang, jangan lagi tersesat menuju pulang
mari kita bangun masjid sepanjang perjalanan, yang agung
dengan shaf-shaf ketulusan dan salam pada segenap semesta

Bumidamai, Yogyakarta.

Musyahadah Senja Bergerimis

bukankah sebentar lagi malam menjelang
burung-burung pun sudah pada hinggap bersarang
sungguh! senja mestinya bukan sekadar kehampaan
memaknai gerimis saja, sepertinya kita
tak lagi mempunyai rasa malu
padahal siapa berlepot noda seharian?
padahal
pertanggungjawaban juga tak kenal tangguh waktu
yang akan memburu engkau atau aku, selalu!

Bumidamai, Yogyakarta.

Seutuhnya Puisi

pada jalanan yang kian gelapkan mata ini
aku ingin seutuhnya puisi, kejujuran hati
sebagai obat bagi musim yang kian sekarat
agar tak lagi kecewa saat rindu mendekat

ya, seutuhnya puisi, sepenuhnya hari-hariku
sebab sepanjang nafas menderukan debu
hanya bual melulu, ilusi duh betapa tak ragu

Bumidamai, Yogyakarta.

 

Nyanyian Cinta

di sepertiga malam yang menggumpal
aku merapatkan cinta, di atas sajadah
sebab kerinduan semakin berjejal
memenuhi dada yang tak sudah-sudah

tasbih berputar menjadi nyanyian cinta
puisi hati menghadap Tuhan Yang Kuasa
sungguh bukan karena cinta terbelah dua
cintaku pada rasul-Mu, duh pada-Mu jua

Bumidamai, Yogyakarta.

Melukis Ibu dalam Mimpi

entah karena kalah, ibu, anakmu bernyanyi
menuju mimpi para pencinta bunga wangi
dan melukismu, ibu, betapa gerak lunglai
atau inikah menuju alamat betapa kerap lalai

Bumidamai, Yogyakarta.

Sejenak Menghibur Diri

di bukit yang tersisa, yang pepohonan
masih belum dilibas angkara
aku merebah bersama lumut bebatuan

air menetes segar dari sulur menjuntai
membasahi dada, inikah surga?

ternyata langkah betapa lelah berlarian
dari keserakahan yang mengancam
siang dan malam bersitegang

Bumidamai, Yogyakarta.

Inikah Pertaubatan

tersungkur dengan segala rupa air mata
setelah bahagia, lantas berjingkrak-jingkrak
kembali

melolong untuk menghentikan alpa serupa
tapi begitu mudah lena
dan mengulang-ulang lagi

bahkan berjanji dengan segala kata
semoga pertaubatan yang ini
adalah sungguh perjalanan hati

Bumidamai, Yogyakarta.

Menunggu Hujan

duduk di tumpukan daun jati yang mengering
ada yang pelahan meranggas di sekujur tubuhku
serupa kambium, pori-pori ini memecah hening
akar persoalan pun  merangsek menuju rindu

ya, rindu tetes demi tetes kesegaran dari langit
serupa hujan yang menumpahkan air cinta
bagi kemarau panjang atau dada yang terhimpit
segeralah, duhai, doa pun telah kering air mata

Bumidamai, Yogyakarta.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.