Ungkapan Cinta

ini rindu kesadaran atau mabuk perjalanan di keremangan
mengungkapkan cinta sempoyongan pada siang dan malam
“jangan pernah mengaku menari seperti Rumi
kita tiada pernah mampu menahan dahaga!”
jubah putih berkibar-kibar, bergema dzikir
mengikuti angin setelah mengajarkan tentang ketulusan

terima kasih wahai guru bermujahadah di deru polusi zaman
ungkapan cinta sesungguhnya berdenyut jantung waktu
lantas mengalir darah ibadah di setiap jengkal jasad
kehidupan, tapi betapa limbung merindu
langkah kaki terantuk begitu saja ketika jiwa
menatap matahari tanpa ada kemungkinan gerhana

Bumidamai, Yogyakarta.

Konfigurasi Air Mata

meriap dalam gurat dan jajar yang sungguh perih, penyesalan
mengapa baru terlahir setelah segalanya terkoyak dan muram
di rahim yang dulu tempat sujud dan bertadarus sunyi
betapa tandus kini, inikah padang bagi benih makrifat?
hanya air mata, sekadar air mata, tak tuntas memang
menebus segalanya yang telanjur direnggut penyembah berhala
sebab habis ruang untuk bertanya tentang salah siapa
kita pun pernah takabur meninggalkan surau tua
setelah pendakian: dan musyahadah dunia betapa indahnya

Bumidamai, Yogyakarta.

Bendera Bangsaku

hari ini, aku pegang kuat tiang bendera yang berkibar
meski dengan rasa geregetan terhadap tingkah polah
para pemimpin yang menodai perjuangan
para pahlawan kemerdekaan

betapa mereka berjuang dengan penuh pengorbanan
harta bahkan jiwa pun melayang
namun, para pemimpin negeri ini, saat ini
entah berapa jumlahnya yang bekerja setulusnya
untuk kemerdekaan dan kemakmuran bangsa
lagi-lagi demi keluarga dan kelompoknya

aih, jangan bicara soal keadilan
nyatanya hanya akan menyesakkan dada
atau menguras air mata yang seakan tiada guna

hari ini, aku pegang kuat bendera bangsaku
entah dengan tangis atau hanya gemuruh rasa duka
hanya doa yang akhirnya berhamburan sepenuh jiwa
semoga perjuangan para pahlawan kemerdekaan
tidak malah dinodai pemimpin negeri ini
dengan mempermainkan hukum dan tindak korupsi

semoga keadilan
semoga kemakmuran
bagi semua rakyat negeri tercinta ini
semoga, semoga…

Yogyakarta, 16 Agustus 2011

Tarawih

kerinduan yang bergulung itu kini tumpah
bersama butiran air mata, membasah

betapa lama jiwa ini tersaruk-saruk zaman
betapa ladang jiwa benar kerontang

kini, menggelar sajadah di taman cinta
menyatu rindu yang sesungguhnya

Bumidamai, Yogyakarta.

Tadarus

adakah surat dari kekasihmu
yang melebihi lembar demi lembar ini

aku terhenyak di setiap titik
betapa kasih dan sayang itu bercahaya

Bumidamai, Yogyakarta.

Menghadap

semula aku merasa tidak layak menghadapkan wajah berdebu
tapi kisah tetes peluh Bunda Hajar antara shafa dan marwa
membuat rongga ini dahaga zamzam, pertaubatan menderu
membasuh kerak usia betapa perih dan malu bergetar
Allahu Akbar! betapa Mahakasih pada segenap semesta

Di Masjid Tergeragap

sebagaimana lontar kerikil jumrah, kebisingan ini berserak
menjelma detak irama langkah kerinduan yang mengetuki multazam
jiwa, yang terlalu kerap lusuh oleh derai musim dan zaman
yang tak pernah bertawajuh ketika galau memuncaki rongga dada

sungguh, alunan adzan yang sebenarnya telah berulang itu kini
melecut-lecut hingga kesombongan lantak dan tiarap tak tersisa
ini benar saat purnama, aku hanya basah air mata di mihrab suci

“menggenggam tali tarikat memang kadang seperti bara!” katamu
dan aku semakin tergeragap dari tidur panjang tanpa pelita
maka di masjid berbinar cahaya, serenada pun mengalirkan cinta
“doakan, ibu, menghadapi tawaran purba ada ketegaran selalu!”

Bumidamai, Akhmad Muhaimin Azzet.

Membuat Puisi untuk Anak TK

Pada suatu hari saya diminta oleh adik saya yang guru TK (Taman Kanak-kanak) untuk membuat puisi yang akan dibacakan pada acara perpisahan di sekolah tempatnya mengajar. Saya diminta membuat dua buah puisi; satu puisi akan dibaca murid TK yang menyatakan selamat tinggal kepada guru-gurunya dan sebuah puisi lagi akan dibaca oleh gurunya sebagai ucapan kepada murid-muridnya yang akan meninggalkan sekolah dan melanjutkan ke sekolah dasar.

Dalam membuat puisi tersebut, saya tinggal mempunyai waktu semalam, karena besok pagi akan dipakai latihan, begitu kata adik saya. Saya tidak masalah dengan waktu semalam itu, toh selama ini saya memang suka menulis puisi. Maka, menjelang tengah malam yang dingin, saya pun bersiap menulis puisi.

Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu. Sementara saya hanya termangu. Bagaimana ini? Ternyata saya sulit sekali menulis puisi, padahal ini puisi untuk anak TK. Aha, justru untuk anak TK itulah saya malah sulit sekali menuangkan kata-kata untuk menulis puisi. Ada beban yang tidak ringan bagaimana menulis puisi secara sederhana dan bisa dipahami oleh anak-anak seusia TK.

Haruskah saya menyerah untuk mengatakan tidak bisa menulis puisi, padahal besok paginya puisi itu sudah harus dibuat latihan. Akhirnya, mau tidak mau, bisa tidak bisa, saya harus menulis puisi itu. Dan, jadilah dua puisi itu sebagai berikut:

Bu Guru, Doakan Kami

hari ini
dua tahun sudah
kami di TK Al-Husna
belajar membaca, belajar menyanyi
belajar menghitung, belajar mengaji

bu guru, maafkan kami
jika selama belajar
kami kadang nakal
menakali teman
atau ramai sendiri

tapi, banyak yang
kami pelajari di sini
itu karena bu guru sabar
menghadapi kami
bu guru amat sayang
kepada kami

terima kasih, bu guru
sungguh terima kasih

bu guru, doakan kami
hari ini kami ‘kan melangkah
meninggalkan
TK Al-Husna tercinta
meneruskan belajar
demi cita-cita

TK Al-Husna, 18 Juni 2011.

—————————–

Selamat Jalan, Anak-Anakku

hari ini
berat rasanya untuk mengatakan
kata perpisahan
sebab dua tahun kita bersama
belajar membaca, belajar menyanyi
belajar menghitung, belajar mengaji

hari ini
terasa ingin menetes air mata
sebab, besok tak ada lagi
kebersamaan kita
di TK Al-Husna tercinta

hari ini
kami pun harus bangga
terhadap anak-anakku tercinta
betapa besar semangat kalian
untuk belajar menjadi bisa

hari ini
meski terasa berat di dada
kami harus mengucapkan
selamat jalan, anak-anakku tercinta
melangkahlah, semangatlah
melanjutkan belajar
demi meraih cita-cita

hari ini
kami melepasmu, anak-anakku
dengan untaian doa
sepenuh jiwa

TK Al-Husna, 18 Juni 2011.

Demikianlah. Saya tidak tahu apakah puisi tersebut bagus atau tidak, tapi itulah hasilnya setelah saya merasa tidak mudah menuliskannya. Akhirnya saya ucapkan salut kepada siapa saja yang sudah terbiasa menulis puisi untuk anak-anak TK. Sungguh, ternyata pekerjaan ini tidak mudah, setidaknya bagi saya.

Salam kreatif dari Purwomartani,
Akhmad Muhaimin Azzet

Padahal Bersemayam Rindu

betapa mudah perseteruan terpentaskan di jalanan
apakah aspal yang meleleh karena panas, dan hingar
polusi kota benar menutup mata kita hingga berdinding
ah, siapa saja takut menyumbat sungai laparnya

padahal masih bersemayam rindu pada laut membiru
sebuah keleluasan dada, sama-sama hidup sentosa
tanpa berebut belulang seperti ganas anjing liar
betapa mudah perseteruan, mari segera bersedekap saja

Bumidamai, Yogyakarta.

Jogja 5,9 Skala Richter

Hari ini, lima tahun yang lalu, 27 Mei 2006, Jogja diguncang gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter. Sudah cukup banyak cerita duka dikabarkan; tiada sedikit kisah bangkit kembali yang disampaikan. Kali ini, saya ingin berbagi puisi dengan sahabat-sahabat di blog ini. Berikut adalah beberapa puisi yang saya tulis di tahun 2006 setelah peristiwa tersebut:

-

Sabtu, 27 Mei

siang dan malam semuanya menatap utara
siapakah yang pernah menyangka
selatan justru mengguncangkan bencana

sekian ribu nyawa melayang dalam cekam
rumah-rumah dan gedung berdebam
desa dan kota tinggallah puing reruntuhan

duhai jiwa yang pagi-pagi tersentak derita
masihkah cermin tak retak untuk berkaca
bagi langkah yang limbung tak lagi gempa

Yogyakarta, 2006

-

05.53.57 WIB

masihkah engkau bertanya suara apakah itu
yang bergemuruh, ya betapa bergemuruh
lantas kita berlarian sungguh dalam ketakutan
sambil menggumamkan doa yang berloncatan

gemuruh itu seperti sepasukan entah bersautan
menjadikan seruang dada nyeri dan tertikam

sebab pagi baru saja menggeliat dalam hangat
jendela rumah masih tersisa deritnya usai dibuka
dan tanpa mengetuk pintu, bumi sontak guncang
semuanya mendadak melayang dan berjatuhan

Yogyakarta, 2006

-

5,9 Skala Richter

jerit dan tangis bersautan sungguh memilukan
kehilangan orang-orang tercinta duh mengerikan

rumah yang hancur biarlah menjadi saksi luka
tetapi nyawa ke mana lagi hendak minta gantinya

maaf duhai jiwa yang tak sempat lagi bertanya
semoga surga: satu-satunya tempat yang mulia

Yogyakarta, 2006

-

Catatan Kelabu

di jalanan orang-orang berlarian
sirine dan klakson bersautan
mobil dan motor mengangkut korban
rumah sakit penuh berjubelan

malam kian mencekam
listrik padam
komunikasi putus jaringan
hujan tiba-tiba menyiram
menggigil kedinginan
dan harapan
betapa berantakan

Yogyakarta, 2006

-

Inikah Bencana

bahkan mulut tak lagi sanggup berucap
inikah bencana, menyaksikan mayat bertebaran
seorang anak menjerit pilu ditinggal ibunya
orang-orang kehilangan tempat tinggalnya
wajah yang bercucuran air mata

akhirnya hanya doa yang melayang ke udara
untuk kebaikan semuanya, semua-muanya
sebab betapa kerdil duhai jiwa yang nestapa
yang lagi-lagi tergagap inikah bencana
sambil sambat sejadi-jadinya

Yogyakarta, 2006

Previous Older Entries Next Newer Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.