Menyembah Kesombongan

( I )
jangan tanyakan lagi apakah bersarang dendam
di denyut nadiku yang memang jatuh-bangun di jalanan
angin menampar, musim mengabarkan keterpurukan
sungguh telah mengajarkan ketulusan beradzan
menempuh sungai damai yang bermuara keabadian
ah, duduk di sampingmu mendengar khutbah
aku terlalu hafal dengan rapal menyembah
kesombongan. lagi-lagi tiang-tiang beton, aspal
meja kantor menjelma bangunan angkuh harga diri
duhai rubayyat langkah mengingkari ranum buah
kapankah kelelahan wirid mendekati senja

( II )
dahulu Syekh Siti Jenar memang mewariskan keberanian
tapi bukan pemberontakan atas kebodohan mempurba
dan lihatlah ini, peribadatan mensujudi hingar kota
padahal sebenarnya di balik jubah jumawa hari-hari
tersimpan lenguh perselingkuhan yang menjijikkan
inikah yang dinamakan sebuah kebanggaan
sementara mata ibu sembab, menahan rasa perih
tak peduli lagi apakah masih ada siang
ataukah malam. sedang aku kerap tenggelam
dalam kesabaran wanita-wanita agung mempesona
yang mengubah belati menjadi doa ketulusan

( III )
“engkau benar sangatlah bodoh memilih, anakku!
mempercayakan cinta hanya kepada penanam bunga”
suatu hari engkau berkacak pinggang menantang langit
o, setan dari negeri manakah yang gelapkan realita
bahwa di masa lalu juga dihimpit kecemasan
bersesak ruang menggelar sajadah, juga berpeluk mesra
betapa persetubuhan kini bergulung, seperti gelombang
yang menghempas di karang menjauhi hijau dedaunan
ya, telah sempurnakah sembahyang kesombongan ini
dengan rakaat dahaga menenggak air samudra
dan sujud pada segala yang bernama benda

( IV )
bila kemunafikan telah begitu gagah bertahta
jangan terlalu berharap datang empat sasmita gaib
yang pernah dibebankan pada perjalanan Syekh Bayat
juga karibnya Syekh Domba, para wali senantiasa berdoa
tapi mujahadah ini malah berlari terbirit
menutup pintu dengan segala rupa babak aib
dan engkau berjingkrak menutup mata
“inilah yang bercahaya, inilah kebenaran dunia!”
mendengarmu aku memang terkapar sepenuh duka
memilih tangis indah Al-Halaj atau kadang menari
mengikuti Rumi dengan gerak gemulai kerinduan

( V )
hari ini, telah ribuan kali iqamah diteriakkan
masih jugakah engkau sumbat telinga rapat-rapat
lalu bersedekap dan dzikir keangkuhan martabat
lihatlah yang tertabur adalah cahaya fatamorgana
auh, betapa miris bila kedunguan ini bertahan
bahkan hingga kematian menjelang
sementara angin dan badai jelas menghadang!
kata ibu, segeralah berwudlu dari segala angkara
kepala dan dada memang sungguh berdebu
lantas takbir mengakui diri bernama manusia
dengan salam ke kanan dan ke kiri penuh cinta

Bumidamai, Yogyakarta.

Iklan

2 thoughts on “Menyembah Kesombongan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s