Hingga Fajar

pergumulan ini begitu suntuk memetik ranum melati
dan keremangan, adalah desah gairah yang menetes
dalam kerinduan atas berbagai bibir berbusa
kebohongan apa lagikah ini, menyetubuhi kota
hingga lupa pada cahaya yang sesungguhnya

doa telah menjelma air mata, fajar pun menghadang
pertanda lenguh blingsatan mesti dimulai
sementara gelombang dendam masih berdesir di hati
tidakkah kita pernah tenggelam, sangat mewangi
ketika menguraikan cinta pada dingin pagi

Bumidamai, Yogyakarta.

Iklan

6 thoughts on “Hingga Fajar

  1. membaca keseluruhan halaman ruang ini membius saya seolah berada di tanah air dan jogja kembali. Terimakasih sudah mengobati sedikit rindu saya akan tanah air terciinta ^_^

    • Begitu ya, Mbak…. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih Mbak Dhieny berkenan singgah di blog sederhana ini. Salam bloger persahabat dari Indonesia.

    • Iya, ketemu lagi dalam jalinan puisi. Sama-sama, saya juga masih memerlukan diri untuk terus belajar dalam menulis puisi. Makasih ya… telah mampir di blog semangat berpuisi ini, hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s