Kenangan di Beranda

untungnya masih tersisa tawa, meski lusuh
jalan yang panjang bukan persoalan air limbah
sebab sungai, mengalir di dada dengan umpatan
kapankah sajadah tergelar di setiap peristiwa

kenangan di beranda, tak ubah hanya angin riuh
menantang gelombang dengan tawaran yang gelisah
dan mempasar seluruh rongga dada, kepenatan
kapankah sajadah tergelar dengan jiwa merona

Bumidamai, Yogyakarta.

Iklan

2 thoughts on “Kenangan di Beranda

  1. kenangan di beranda
    memeluk diam yang terdiam
    dalam pesona suka dan duka
    yang kamu punya
    dan sederet peristiwa dunia

    sajadah tergelar
    merona disudut kamar
    kesejukan hatimu berbinar
    meski di luar
    kedamaian samar
    dan penuh kelakar
    yang membuat mata nanar

  2. Mbak Astrid, duh… terima kasih banyak atas tambahan atau komentar dengan puisinya, luar biasa. Makasih juga telah berkunjung di blog puisi sederhana ini ya, Mbak. Salam sastra dan selamat terus berkarya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s