Jogja 5,9 Skala Richter

Hari ini, lima tahun yang lalu, 27 Mei 2006, Jogja diguncang gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter. Sudah cukup banyak cerita duka dikabarkan; tiada sedikit kisah bangkit kembali yang disampaikan. Kali ini, saya ingin berbagi puisi dengan sahabat-sahabat di blog ini. Berikut adalah beberapa puisi yang saya tulis di tahun 2006 setelah peristiwa tersebut:

Sabtu, 27 Mei

siang dan malam semuanya menatap utara
siapakah yang pernah menyangka
selatan justru mengguncangkan bencana

sekian ribu nyawa melayang dalam cekam
rumah-rumah dan gedung berdebam
desa dan kota tinggallah puing reruntuhan

duhai jiwa yang pagi-pagi tersentak derita
masihkah cermin tak retak untuk berkaca
bagi langkah yang limbung tak lagi gempa

Yogyakarta, 2006

05.53.57 WIB

masihkah engkau bertanya suara apakah itu
yang bergemuruh, ya betapa bergemuruh
lantas kita berlarian sungguh dalam ketakutan
sambil menggumamkan doa yang berloncatan

gemuruh itu seperti sepasukan entah bersautan
menjadikan seruang dada nyeri dan tertikam

sebab pagi baru saja menggeliat dalam hangat
jendela rumah masih tersisa deritnya usai dibuka
dan tanpa mengetuk pintu, bumi sontak guncang
semuanya mendadak melayang dan berjatuhan

Yogyakarta, 2006

5,9 Skala Richter

jerit dan tangis bersautan sungguh memilukan
kehilangan orang-orang tercinta duh mengerikan

rumah yang hancur biarlah menjadi saksi luka
tetapi nyawa ke mana lagi hendak minta gantinya

maaf duhai jiwa yang tak sempat lagi bertanya
semoga surga: satu-satunya tempat yang mulia

Yogyakarta, 2006

Catatan Kelabu

di jalanan orang-orang berlarian
sirine dan klakson bersautan
mobil dan motor mengangkut korban
rumah sakit penuh berjubelan

malam kian mencekam
listrik padam
komunikasi putus jaringan
hujan tiba-tiba menyiram
menggigil kedinginan
dan harapan
betapa berantakan

Yogyakarta, 2006

Inikah Bencana

bahkan mulut tak lagi sanggup berucap
inikah bencana, menyaksikan mayat bertebaran
seorang anak menjerit pilu ditinggal ibunya
orang-orang kehilangan tempat tinggalnya
wajah yang bercucuran air mata

akhirnya hanya doa yang melayang ke udara
untuk kebaikan semuanya, semua-muanya
sebab betapa kerdil duhai jiwa yang nestapa
yang lagi-lagi tergagap inikah bencana
sambil sambat sejadi-jadinya

Yogyakarta, 2006

Iklan

7 thoughts on “Jogja 5,9 Skala Richter

  1. dan, puisi-puisimu
    adalah saksi peristiwa
    yang terkadang begitu sunyi untuk kita cerna

    well, terima kasih atas berbagi puisinya….

    • Benar sekali, Mas Mabruri, hendaknya kita bisa memetik hikmah dari setiap peristiwa. Di sinilah sesungguhnya kita bisa mengayam rasa bahagia. Makasih banyak ya, Mas, semoga kehidupan ke depan semakin lebih baik.

  2. Ping-balik: AMA, Penyair yang Merindu Sang Pemilik Kalbu « Usup Supriyadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s