Ketika Menggelar Sajadah

bukan ratap, tepatnya mengadukan langkah terjerembab
meski luka kadang menganga atau perih menikam
sebab dahaga rindu ini juga tetes air dalam gerah
dan polusi hingar-bingar manusia kota; berwudhu
sungguh betapa ranum jiwa menghalau debu-debu
lantas menggelar sajadah, memancangkan perjalanan
dalam peta
yang katanya berjejal tawaran menghanyutkan

Bumidamai, Yogyakarta.

Iklan

6 thoughts on “Ketika Menggelar Sajadah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s