Penulis Puisi dan Pembacanya

Tadi pagi, pukul 09.06 WIB, di facebook saya ada pesan yang masuk bunyinya begini:

Assalamu alaikum, Bapak. Saya Rosi, ingin menanyakan apakah Bapak yang menulis puisi “Anakku Lahir Bersama Api”? Saya agak kesulitan menentukan arti api dalam puisi tersebut. Lalu suasana apa yang terkandung dalam puisi tersebut? Terima kasih atas jawaban Bapak.

Kemudian saya jawab:

Wa’alaikumusalam wr.wb.
Iya, saya yang telah menulis puisi tersebut. Perasaan, itu puisi sudah lama sekali. Mohon maaf sebelumnya, Mbak Rosi membaca di mana?

Untuk penjelasannya, sebentar… saya perlu mencari dulu puisi yang sudah lama itu dan mengingat kembali proses penulisannya.

Saat saya masih mencari puisi tersebut, jawaban dari Mbak Rosi mucul di facebook begini:

Puisi Bapak ada di soal Detik-Detik UN Bahasa Indonesia untuk SMA terbitan Intan Pariwara terbitan sekarang.

Ooo, ternyata puisi tersebut dimuat dalam buku Detik-Detik UN Bahasa Indonesia untuk SMA yang diterbitkan oleh Intan Pariwara tho…, demikian saya membatin. Barangkali penyusun buku tersebut mendapatkan puisi saya dari koran yang pernah memuatnya.

Buat pembaca yang ingin tahu puisi tersebut, berikut saya kutipkan secara utuh ya…

*

ANAKKU LAHIR BERSAMA API

menyambutmu aku terbakar dalam kerinduan
saat engkau terlahir bersama api, berkobaran jingga
inilah dendam membara dari rahim tersembunyi
saat segenap mata dibutakan oleh pilihan serigala
ya, segala kesementaraan memancarkan cahaya
perebutan apa saja memang tak kenal kata mati!

anakku memilih lahir bersama api, dan melesat
ke segenap wilayah yang suntuk tergelapkan
duhai aku menyambutmu dengan seribu tungku
berjajar di bawah ranjang bersama senyum ibumu!

*

Ya, demikianlah puisi yang saya tulis itu, yang dimuat dalam buku terbitan Intan Pariwara itu, atau yang pernah masuk dalam soal Ujian Akhir Semester Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas XI Program IPA-IPS itu, yang akhirnya ditanyakan oleh Mbak Rosi yang seorang guru itu.

Setelah mengingat proses penulisan puisi tersebut, lalu saya jawab pertanyaan Mbak Rosi dengan jawaban begini:

Ohya, saya teringat, api dimaksudkan di situ adalah rasa panas yang menurut saya banyak menghinggapi orang-orang untuk saling curiga satu sama lain, begitu mudah kelompok mayoritas membakar minoritas yang dinilai sesat, sementara juga yang kuat melibas yang lemah. Saat seperti itu, justru saya terbakar rindu pada jalan hidup yang bukan kesementaraan, yang penuh cahaya, dalam rahmat-Nya. Semoga demikian dengan anakku yang lahir pada situasi semacam itu, selalu rindu dan menapaki jalan-Nya.

Semoga penjelasan singkat ini bisa dipahami.

Demikianlah duhai pembaca tercinta, adakalanya penulis puisi membiarkan pembaca untuk menemukan sendiri jawaban dari apa yang dibacanya. Dan, saya setuju itu. Sebab pembaca tentu mempunyai rasa dan imajinasi yang berbeda dengan penulis. Namun, bila ada yang bertanya, dengan senang hati pula saya tak keberatan untuk menjawabnya.

Demikian. Semoga bermanfaat dan semakin kreatif selalu.

Salam Puisi Indonesia,
Akhmad Muhaimin Azzet

Iklan

75 thoughts on “Penulis Puisi dan Pembacanya

  1. Kalau menganut kritik baru sih penulis sudah dianggap mati setelah tulisannya terpublikasi. Namun bagi saya metode kritik lama masih bisa kok diterapkan sampai saat ini, karena bagaimanapun penulis juga punya hak menyampaikan pesan yang tak tersampaikan dengan benar pada pembacanya.

    • Iya, Mas Musayka. Kalo saya coba untuk menggunakan keduanya. Setelah puisi ditulis, pembaca sepenuhnya punya kuasa untuk membaca. Namun, bila ada yang bertanya, tak bisalah awak tak menjawabnya. Makasih banyak telah singgah ya, Mas.

      • Ya.., saya sepakat dengan Mas Musayka. Terbukti masih banyaknya komunitas bedah puisi yang berdiri dinegeri ini. Dan sekiranya ada yang bertanya tentulah wewenang penulis untuk menjelaskanya, sebab itu adalah hak mutlak yang harus dipertanggung jawabkan atas apa yang telah ditulisnya. Sebagaimana seorang penyair yang dituntut untuk menemukan kata bukan yang menemui kata.

        Salam..

  2. puisinya keren bgd pak ustadz,,tapi beneran deh ga ngerti maknanya.
    trus andai masing2 anak mempunyai jawaban yg berbeda, gimana cara guru menilainya pak ???

    #yang deg2an krn anaknya mau UN

    • Makasih banyak, Mimi, kebetulan dalam soal UAS tersebut (saya ga tahu yang Detik-Detik UN yang terbitan Intan Pariwara) pertanyaannya bukan apa maknanya, tapi begini (saya kopikan saja):

      28. Bacalah puisi berikut dengan seksama!

      Anakku Lahir Bersama Api
      Karya Akhmad Muhaimin Azzet

      menyambutmu aku terbakar dalam kerinduan
      saat engkau terlahir bersama api, berkobar jingga
      inilah dendam membara dari rahim tersembunyi
      saat segenap mata dibutakan oleh pilihan serigala
      ya, segala kesementaraan memancarkan cahaya
      perebutan apa saja memang tak kenal kata mati

      anakku memilih lahir bersama api
      ke segenap wilayah yang suntuk tergelapkan
      duhai aku menyambutmu dengan seribu tungku
      berjajar di bawah ranjang bersama senyum ibumu!

      Berikut bukan merupakan ciri-ciri puisi kontemporer berdasarkan penggalan puisi di atas:
      a. tidak terikat jumlah baris
      b. tidak terikat oleh jumlah bait
      c. terikat oleh persamaan bunyi
      d. tidak terikat oleh isi dan sampiran
      e. mementingkan diksi dibandingkan bait

      • Saya sangat menikmati betul kedalaman puisi Pak Ustaz, kendati tidak betul-betul memahami puisi tersebut. Namun, usai membaca penjelasan proses kelahiran puisi di atas, lalu saya coba membaca puisi itu lagi, ternyata sangat mudah memahaminya. Tambah nikmat rasanya. (Ahmad Fatoni di Malang).

  3. Menurut saya, pembaca bebas ‘menterjemahkan’ puisi berdasarkan penangkapannya masing2 , tidak harus sama dg apa yg ingin diungkapkan penulisnya..namun memiliki kepastian tentang apa yg ingin diungkapkan penulisnya lebih bagus lagi… Sayang tak semua pembaca berkesempatan membahas langsung sebuah karya dg penulisnya… Oya mas..untaian katanya memang indah.. 🙂

    • Benar, Mbak, saya juga setuju banget sama yang itu. Sehingga, sebuah karya bisa lebih kaya dengan penangkapan yang berbeda dengan pembaca. Namun, bila ada yang bertanya langsung dengan penulisnya, tentu kesempatan ini juga bermakna. Makasih banyak ya… 🙂

  4. Setuju itu. Saya lebih suka para pembaca yang menartikan tulisan itu sendiri. Semua orang punya pemikiran dan imajinasi yang berbeda. Tapi puisi bapa tadi dalem sangat. Saya suka itu! 🙂

  5. hmmmm….
    pemilihan kata2nya itu loh pak yang bikin saya berdecak
    walau sejujurnya tidak pandai berpuisi, tapi melihat sekilas puisi ini
    menyiratkan makna yg dalam dan berhikmah

  6. Betul sekali P’Ustadz, terkadang penulis puisi membuatnya saat ada peristiwa yang ditangkap oleh naluri kata dan kemudian setelah dihidangkan bisa multi tafsir tergantung suasana hati pembacanya, kalau begitu apakah jawabannya juga bisa multi tafsir ??

    • Seorang penulis puisi memang menuangkan dari apa yang ditangkapnya dan bahkan mengendap dalam pikiran dan rasanya. Namun, pembaca dapat memahaminya sesuai dengan pikir dan rasa yang ada pada diri pembaca saat membaca karya tersebut, hal ini tentu bisa menjadi multi tafsir dalam sebuah karya (sastra).

  7. Memang pembaca selalu berbeda2 tingkahnya. Ada yg nggak mau usaha, maunya pengen dikasih tahu saja..tp ya itulah kenyataannya apresiasi masyarakat kita pd puisi. Salam sastra mas 🙂

    • Tidak apa-apa, Mas Nanang. Atau mungkin sudah berusaha, namun untuk mencocokkan yang dibatinnya dengan penulis, lagi pula media untuk komunikasi sekarang juga mudah. Makasih banyak ya, Mas.

  8. Menikmati pembelajaran proses penulisan dan ekspresi puisi karya Mas AMAzzet yang kawentar. Menikmatinya sebagai komunikasi kaya interpretasi. Salam

    • Terima kasih banyak ya, MBak Izzawa.
      Waduh…, kalo kok bisa sampe nemu fb saya tentu saya tidak tahu ceritanya, hehe… Tapi, nyari nama seseorang di fb itu kayaknya tidak sulit kan, tinggal kita ketik nama seseorang yang kita cari di kotak pencarian yg ada di fb tentu akan muncul bila ada.

  9. ………duhai aku menyambutmu dengan seribu tungku
    ………berjajar di bawah ranjang bersama senyum ibumu!

    mas Akhmad Muhaimin
    suka…. mantap…
    dalem bangetz, penuh metafora
    membias semangat perubahan…

    salam,

  10. kalau dari segi makna puisinya mas menurut rifa tergantung bagaimana imajinasi pembacanya saja menangkap maknanya..
    tentang makna dari suatu puisi bisa saja sama dengan imajinasi penulis bisa juga tidak..kalau batasan penulis ketika menulis hanya sekedar menuangkan hanya untuk kesenangan pribadi semata rasanya tidak masalah membiarkan pembaca berimajinasi sesuai versi masing-masing tapi kalau tujuannya penulis sifatnya untuk membangun atau menyampaikan pesan kepada khalayak mungkin memang baiknya menajamkan makna dari diksi yang ditulis agar pesan penulisnya sampai.. menurut rifa sih 🙂

    • Menurut saya juga begitu, Mbak Rifa. Sungguh, saya setuju banget sama pendapat Mbak Rifa. Di sinilah sesungguhnya penulis puisi untuk bisa menyajikan kepada pembaca secara baik mengenai apa yang disampaikannya. Makasih banyak ya, Mbak.

  11. Tapi Pak puisi itu kan berbeda-beda setiap kepala penafsiran nya
    Lantas bagaimana jika seperti kondisi yang saat ini saya alami
    Penafsiran saya berbeda dengan penafsiran guru saya
    Sehingga menentukan siapa yang benarnya dan siapa salah nya juga susah
    Kalau menurut bapak kata api disana itu apa Pak?
    Keberanian,kekacauan,kemarahan,kesombongan atau kekuatan?
    Tolong bantuannya Pak.terima kasih 🙂

    • Benar sekali, Mbak Siti Aisyah, puisi yang sudah dibuat oleh penulisnya bisa berbeda penafsirannya dengan para pembacanya; demikian pula dengan pembaca yang satu dengan yang lainnya. Maka, tidak ada kata “salah” dalam hal ini. Jika menurut saya, api yang yang saya tuliskan bermakna dua hal. Bait pertama bermakna ketidakbaikan (kemarahan, kekacauan) yang menghinggapi orang-orang, sedang pada bait kedua berisi kebaikan (semangat) yang melesatkan rindu untuk selalu dekat dengan cahaya-Nya.

      • Terima kasih banyak atas penjelasan nya Pak
        Sangat membantu saya
        Dan saya akui puisi bapak menakjubkan banyak makna yang terselubung bahkan ingin rasanya dapat menulis puisi seperti bapak
        Sekali lagi terima kasih banyak Pak:)

  12. assalamualaikum wr.wb
    maaf dulu sebelumnya begini, gimana ya manggil nya,,bapa aja deh
    begini saya mau menanyakan tentang puisi yang bapa buat, soal nya saya ada tugas dri sekolah mengenai puisi bapak ini untuk megartikan setiap kata tau bait kedalam suatu bahasa yang lebih mudah dimengerti maklum lah karena saya bukan orang yg ahli dlam puisi. dari puisi anakku lahir bersama api ini karena saya sedikit kesulitan untuk mengartikannya.saya mohon agar bisa menjelaskannya dan terima kasih banyak.mohon maaf kalau sekiranya permintaan saya ini merepotkan bapa.

    • Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Ohya, manggilnya gimana nyaman Mbak Yunita saja.
      Tidak apa-apa, Mbak, tidak merepotkan kok, hehe…
      Dari penjelasan yang sudah saya tulis dalam artikel di atas, juga beberapa penjelasan tambahan di komentar bawahnya, insya Allah sudah bisa Mbak pamahi penjelasannya. Mkasih banyak ya… Semoga sukses sekolahnya.

  13. asalamualikum wr.wb
    saya mau tanya tentang puisi yang berjudul anakku lahir bersama api tujuan bapa sebagai penyair ingin menyampaikan apa kepada kami sebagai pembaca? ,soal nya saya sedikit bingung maksud dari puisi tersebut
    makasih sebelumnya

    • Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Ohya, Mbak, makasih banyak atas pertanyaannya ya… dan jawaban dari saya silakan dibaca di beberapa penjelasan di atas ya, insya Allah telah saya sampaikan dengan jelas. Sekali lagi, makasih juga telah singgah kemari ya…

  14. keren pak puisinya. saya sebenernya gak begitu ngeh bikin puisi, apalagi yang nyastra. tapi saya suka baca2 majalah seperti horison kalo di perpus sekolah dulu. dan puisi ini ngingetin saya sama kekaguman saya pada sastra. Alhamdulillah juga bapak bersedia ngasih penjabaran maknanya nih. 🙂 kalo ndak saya juga sama2 bingung dalam kekaguman… 😀

  15. Saya lupa mau berkomentar soal postingan ini. Sampai berlarut-larut hingga berbulan-bulan. Saya pribadi menganut paham bahwa ketika puisi lahir dan selesai ditulis, pupuslah sudah otoritas penyair yang melahirkannya. Puisi telah maujud menjadi dirinya sendiri dan hidup mandiri di luar bayang-bayang penyair. Dalam konteks ini, baik penyair/penulis puisi maupun pembaca umum berada pada posisi yang sama dalam memaknai puisi. Penafsiran pembaca atas puisi boleh jadi sama dengan apa yang diniatkan penyair saat menulis puisi. Sebagaimana pembaca yang bisa salah mengartikan puisi, penyair pun bisa salah menangkap makna dari makna yang pernah ia gagas saat kali pertama melahirkan puisi itu. Barangkali kata ‘salah’ juga tidak tepat, karena semakin beragam interpretasi atas sebuah puisi, semakin kaya pulalah puisi tersebut. Namun kehadiran penulis/penyair setidak-tidaknya bisa membantu mengarahkan atau memandu pembaca agar sampai pada makna yang dimaksudkan walaupun penulis sendiri bisa tersesat dalam belantara kata-kata yang pernah ia rajut.

    Demikian pendapat saya Mas. Lebih dari itu, adalah hal yang istimewa ketika karya kita mendapat apresiasi dari pembaca. Sekurang-kurangnya siapa tahu menjadi amal jariyah. Aamiin 🙂

    • Iya, Mas, pembaca puisi memang dapat memahami apa yang ia baca sesuai dengan yang ditangkapnya dari sebuah teks puisi. Terlepas dari teks tersebut lahir situasi dan kondisinya masing-masing pada saat ditulis oleh penyairnya. Sungguh, makasih banyak ya, Mas, atas tambahannya yang bermanfaat ini. Salam terus berkarya dan kreatif ya… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s