Mendaki Malam Percintaan

inilah kembara betapa dahaga hakikat perjumpaan
selamat malam gelombang dan pantai berciuman
jiwa rindu berabad berkembang, putik membibir
menunggu tumpah rahasia dari puncak bersulang

sesungguhnyalah pengantin yang mendaki malam
percintaan, di segala rengkuh tulus bermuara
selamat malam kekasih membeningkan kedalaman
menatap keabadian: hanya getar sepenuh ruang sukma

Bumidamai,Yogyakarta
Akhmad Muhaimin Azzet

Merdeka

Akhmad Muhaimin Azzet, Puisi Merdeka, Kemerdekaan, Perjuanganmerdeka itu harga diri
diperjuangkan dengan akal budi
bergelora sepenuh hati

berkibarlah sang saka
di seluruh persada nusantara
mengobarkan semangat
jiwa-jiwa kesatria

perjuangan mesti diteruskan
bukan untuk golongan
apalagi sekelompok berandalan

merdeka itu berbahagia
bagi siapa saja anak bangsa
di seluruh desa dan kota
negeri tercinta, Indonesia Raya

Yogyakarta, Agustus 2016
Akhmad Muhaimin Azzet

Tahajjud

jangan lagi, duhai jangan lagi, menyesali diri
ketika kereta malam yang bercahaya pergi
dan jiwa ini hanya termangu, berselimut pagi

maka bangunlah segera sepenuhnya merindu
senyampang hamparan sujud betapa indahnya
dan di telaga ampunan, membersihkan debu
dengan air mata, dengan ketulusan dan cinta

Bumidamai,
Akhmad Muhaimin Azzet

Dendobrium Mengeja Langkah

–Iman Budhi Santosa

memang senantiasa ada yang mesti dipertahankan
mengeja langkah hari-hari, seperti mengaji pagi-pagi
bukan persoalan tergeragap menghadapi geram kalah
masih ada embun menciumi subuh dengan gairah cinta
inilah harapan telaga, menuju kesentosaan semesta

memang senantiasa ada yang mesti dipertaruhkan
meski kadang harus pergi, mujahadah cuaca kedalaman
berkali sudah angin jalanan lindap dan menikam
menelusuri catatan berkabut dari belalang kesunyian
menjejakkan sajak kelahiran, dengan tangis dan doa!

Bumidamai, Yogyakarta
Akhmad Muhaimin Azzet

Dengan Dalih

akhirnya yang terjadi hanya mayat bergelimpangan
terpanggang api, beraroma mesiu dan sayat dendam
masihkah ada ruang untuk kian mengangakan luka
menakhtakan amis, dengan dalih kebenaran surga
sesungguhnya geram menyesaki seluruh rongga

atau limbung kita menatap cahaya langit
sebab betapa temaram, langkah yang tersembunyikan
seperti pencopet bergerak leluasa di bus kota
padahal ujung-ujung waktu memburu, siapa berkelit
dengan malaikat pencatat senantiasa berjaga

Bumidamai,
Akhmad Muhaimin Azzet