Obsesi

–bersama pejalan kaki malam-malam

katanya malam ini kau akan menebar benih cinta
di setiap peziarah yang hatinya merangsang
pada sinar bulan, ada wanita setengah telanjang
menghadang dan menawarkan bunga-bunga

siapa yang lantas terkulai
membubuhkan tanda tangan konser kematian
dengan ingar-bingar orang-orang terdampar

mengapa engkau hanya diam, menjuntai
atau meditasi menghimpun kekuatan

Pojokdesa,
Akhmad Muhaimin Azzet

Risalah Gelombang

bukan makna pertemuan dua bibir, bagi pendoa
di tepian pantai antara karang dan gelombang
adalah isyarat kerinduan cinta yang sebenarnya
pergi bergulung dan berulang, lantas mengusap
segala gerah atas rayuan sebentuk berhala

bahtera dan usia siapa dihantam garang badai
seperti berkhianat, katamu mencari pendusta
padahal kesepakatan menuju hari pulang
telah ditandai mawar, tanpa darah tertumpah
meski keburaman semua tahu tiada menyala

Bumidamai,
Akhmad Muhaimin Azzet

Luluh

biarlah kemarin mengaji pun begitu menghitam
lewat nafas yang berburu, berkubang kembali
dinginnya malam betapa hangat oleh pendakian

tapi kini entah karang entah pualam namanya
di hati, menjadi luluh mencelup hari-hari
betapa damai memeluk cinta seerat-eratnya

Bumidamai,
Akhmad Muhaimin Azzet

Kekasih, Duhai

inikah gelombang memenuhi dada
menerjangku yang rindu tiada tara
kekasih, duhai, kapankah berjumpa
siang dan malam inginnya segera

salam bagimu duhai Nabi tercinta
shalawat untukmu duh Rasul mulia

inikah jiwa yang disergap pesona
tak ada lagi luka apalagi menganga
tak kenal gelap semuanya cahaya
mengurai makna menempuh usia

Bumidamai, Yogyakarta.

Ada Gelombang

senantiasa bergemuruh, menghadapi karang seharian
ada gelombang yang begitu indah di dadamu
ya, dzikir itu, gelombang sarat ombak rindu dan cinta
yang tidak hanya menderu dalam tahajjud di malam syahdu
tapi segala gerak siang bekerja menuju kedamaian
dan engkaulah memang senantiasa berguru kedalaman samudra
memaknai usia, menata batu-bata bagi rumah keabadian

ada gelombang yang tidak saja gegap menghantam
tetapi juga lembut membelai, persoalan beragam
seperti kata ibu saat menunggui angin kemarau
merindui hujan dengan doa dan ketulusan dedaunan
“dengan sujud, anakku, menuntaskan segala beban!”
sementara gelombang biarlah menjelma wujud kesaksian
dan pertaubatan yang tak sudah-sudah teruraikan

Bumidamai, Yogyakarta.

Nyanyian Cinta

di sepertiga malam yang menggumpal
aku merapatkan cinta, di atas sajadah
sebab kerinduan semakin berjejal
memenuhi dada yang tak sudah-sudah

tasbih berputar menjadi nyanyian cinta
puisi hati menghadap Tuhan Yang Kuasa
sungguh bukan karena cinta terbelah dua
cintaku pada rasul-Mu, duh pada-Mu jua

Bumidamai, Yogyakarta.