Risalah Gelombang

bukan makna pertemuan dua bibir, bagi pendoa
di tepian pantai antara karang dan gelombang
adalah isyarat kerinduan cinta yang sebenarnya
pergi bergulung dan berulang, lantas mengusap
segala gerah atas rayuan sebentuk berhala

bahtera dan usia siapa dihantam garang badai
seperti berkhianat, katamu mencari pendusta
padahal kesepakatan menuju hari pulang
telah ditandai mawar, tanpa darah tertumpah
meski keburaman semua tahu tiada menyala

Bumidamai,
Akhmad Muhaimin Azzet

Sajak Gelombang

lagi-lagi bertemu gelombang saat mencatat
debur dari dalam dada, membuncah diam-diam
tak ada lagi yang bisa disembunyikan

inilah aku berhamburan sajak gelombang
saat rindu menggelegak dari tanah pengungsian
bersama doa gemuruh dan bergulungan

Bumidamai,
Akhmad Muhaimin Azzet

Ada Gelombang

senantiasa bergemuruh, menghadapi karang seharian
ada gelombang yang begitu indah di dadamu
ya, dzikir itu, gelombang sarat ombak rindu dan cinta
yang tidak hanya menderu dalam tahajjud di malam syahdu
tapi segala gerak siang bekerja menuju kedamaian
dan engkaulah memang senantiasa berguru kedalaman samudra
memaknai usia, menata batu-bata bagi rumah keabadian

ada gelombang yang tidak saja gegap menghantam
tetapi juga lembut membelai, persoalan beragam
seperti kata ibu saat menunggui angin kemarau
merindui hujan dengan doa dan ketulusan dedaunan
“dengan sujud, anakku, menuntaskan segala beban!”
sementara gelombang biarlah menjelma wujud kesaksian
dan pertaubatan yang tak sudah-sudah teruraikan

Bumidamai, Yogyakarta.