Cinta Sederhana

Istriku,
Ika Rosana Sari

cintaku kepadamu
sederhana saja

saat berada di dekatmu
hati tenteram dan bahagia

saat tak berada di dekatmu
hati rindu tiada terkira

Suamimu,
Akhmad Muhaimin Azzet

Iklan

Tahajjud

jangan lagi, duhai jangan lagi, menyesali diri
ketika kereta malam yang bercahaya pergi
dan jiwa ini hanya termangu, berselimut pagi

maka bangunlah segera sepenuhnya merindu
senyampang hamparan sujud betapa indahnya
dan di telaga ampunan, membersihkan debu
dengan air mata, dengan ketulusan dan cinta

Bumidamai,
Akhmad Muhaimin Azzet

Introspeksi Hari-Hari

barangkali inilah perkabungan geliat usia kita
menempuh hari-hari, disekap bibir berbusa-busa
tidak saja di pasar dan gedung berpenghuni congkak
adalah serigala perlahan juga menjelma
dalam jubah kuasa, lagi-lagi terulang kisah tua

sudah saatnya melarungkan gerah mencinta
di gelombang selatan, atau penjuru cakrawala
sebab martabat kemanusiaan betapa bercahaya
bila malam tanpa perselingkuhan
menggelar kafan, siapa saja segera berkaca

Bumidamai,
Akhmad Muhaimin Azzet

Memilih Kembali

mempertemukan nama-nama melebihi sekadar benda
jiwaku meregang, bukan seperti ketika Adam bersama Jibril
mengeja alif hingga menuntaskan segala perbekalan
sungguh dahsyat pusaran angin di lumbung suara
menggiring kesadaran, secepatnya membaca mantra
dan membasuh diri di rahim keabadian

masihkah engkau mencariku duhai perayu resah
catatan pengkhianatan terlalu panjang, dan kesaksian
hari ini begitu prasasti dalam ikrar berani mati
sekarang, biarkanlah peta-peta terbuka
mengenalkan hakikat dahaga dan rapal cinta
dari kerinduan perawan yang selalu purnama

Bumidamai, Yogyakarta
Akhmad Muhaimin Azzet

Menghapus Sketsa Dusta

serupa penyesalan, tapi mengental hitam di dada
inikah darah kemanusiaan kita yang telanjur tumpah
batu-batu dan belati tajam juga berserak, membelalak
mata siapakah itu nanar dengan gairah merimba
di sinilah, tugu hitam retak mimpi dan rahasia
yang anak-cucu menjulur lidah belajar sejarah

betapa kebohongan mesti disudahi, lihatlah
kepak cemara lunglai dalam saga berderak-derak
dan kita malah menikam muka sambil berpesta
tidakkah melati kematian telah berceceran
mengenangkan nasib betapa kerontang sungai
padahal limbah, adalah juga kegersangan nyata

di sudut kota, Akhmad Muhaimin Azzet