Air Mata Rindu

sepotong rindu ini seutuhnya untukmu
meski rayuan lembut di jalanan merebutnya
aku berlari di atas pematang licin berbatu
ingin segera menghapus air matamu, segera

saat gerimis kuketuk pintu hatimu tanpa ragu
meski kerinduan ini betapa berselimut kabut
masihkan engkau simpan gelombang biru itu
di bening matamu, di situlah aku tersangkut

aku datang sebagaimana sungai menuju muara
duhai, bukalah pintu segera, bukalah segera
sebelum aku tenggelam dalam pusaran air mata

Bumidamai, Yogyakarta.

Berlari Dalam Hujan

bahkan engkau selalu berharap tiada basah
saat berlari dalam hujan, seperti penari malam
katanya ke mana lagi bila dikejar gelombang

seperti di pasar engkau bertemu kegaduhan
adakah senantiasa bagi jiwa bernyanyi rindu
begitulah para maulana, membasah kedalaman

dan berlari dalam hujan katanya keriangan
sesekali menghapus dahaga, bukan terpesona
sebab jalan kematian adalah pintu bercinta

Bumidamai, Yogyakarta.

“Puisi ini diikutsertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi

Reruntuhan Rindu

di atas tanah yang kian tua ini
orang-orang serentak berdiri
membaca shalawat kepadamu
di tepi malam menyatu rindu

ada yang berderak dalam dada
aku tak tahan rindu menggelora
salam padamu duh Baginda Nabi
kapan bertemu, tak hanya mimpi

air mata ini menetes tiada henti
aku terhuyung di reruntuhan rindu
orang-orang berdoa sepenuh hati
aku kian hilang duh merinduimu

Bumidamai, Yogyakarta.

Kekasih, Duhai

inikah gelombang memenuhi dada
menerjangku yang rindu tiada tara
kekasih, duhai, kapankah berjumpa
siang dan malam inginnya segera

salam bagimu duhai Nabi tercinta
shalawat untukmu duh Rasul mulia

inikah jiwa yang disergap pesona
tak ada lagi luka apalagi menganga
tak kenal gelap semuanya cahaya
mengurai makna menempuh usia

Bumidamai, Yogyakarta.

Ada Gelombang

senantiasa bergemuruh, menghadapi karang seharian
ada gelombang yang begitu indah di dadamu
ya, dzikir itu, gelombang sarat ombak rindu dan cinta
yang tidak hanya menderu dalam tahajjud di malam syahdu
tapi segala gerak siang bekerja menuju kedamaian
dan engkaulah memang senantiasa berguru kedalaman samudra
memaknai usia, menata batu-bata bagi rumah keabadian

ada gelombang yang tidak saja gegap menghantam
tetapi juga lembut membelai, persoalan beragam
seperti kata ibu saat menunggui angin kemarau
merindui hujan dengan doa dan ketulusan dedaunan
“dengan sujud, anakku, menuntaskan segala beban!”
sementara gelombang biarlah menjelma wujud kesaksian
dan pertaubatan yang tak sudah-sudah teruraikan

Bumidamai, Yogyakarta.